Langsung ke konten utama

PAGAR NUSA DAN SIYASAH KEBANGSAAN

Oleh : SURYANANDA. S.IP
(KETUA PAGAR NUSA SULAWESI BARAT)

Siyasah Pagar Nusa bertujuan untuk dakwah, yakni tentang kebangsaan yang memuat nasionalisme islam. Pada titik ini, Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa konsisten pada komitmen untuk menjaga NKRI. Pagar Nusa merujuk pada sikap kiai-kiai pesantren dan arah organisasi NU yang berprinsip pada nilai Islam dan kebangsaan. 

Konsepsi itu muncul dari pemahaman mendasar atas sikap para kiai dalam memperjuangkan kemerdekaan serta menjaga negara. Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagian dari iman. Itulah yang menjadi prinsip NU serta menjadi rujukan Pagar Nusa.

Perjuangan kebangsaan para kiai NU berdasar pemahaman bahwa ad-din (agama) merupakan latar belakang perilaku dan pemikiran, berlandasan nilai dan prinsip Islam. Semisal musyawarah (asy-syura), kebebasan (al-hurriyah), keadilan (al-’adalah), dan persamaan derajat (al-musawah). Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan nilai dasar Pancasila yang disepakati para pendiri bangsa.
Islamisme dan Ideologi Trans-Nasional

Bagi Pagar Nusa keutuhan komitmen keislaman dan keindonesiaan merupakan perwujudan kesadaran beragama dan berbangsa bagi setiap insan muslim di Indonesia dan atas hal dasar tersebut maka menjadi keharusan untuk mempertahankan Bangsa dan Negara Indonesia dengan segala tekat dan kemampuan, baik secara individu maupun bersama. 

Di tengah arus deras Islamisme, bagaimana Pagar Nusa mempersiapkan diri? Tantangan radikalisme dan merebaknya ideologi transnasional yang masuk ke Indonesia melalui jaringan organisasi internasional, ataupun lembaga-lembaga yang terkoneksi dengan politik internasional perlu direspons secara strategis. 

Bagaimanapun, Pagar Nusa bukanlah barisan paramiliter. Pagar Nusa tidak menyiapkan kadernya dalam pertarungan kasar yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Para pendekar Pagar Nusa dilatih memiliki kekuatan fisik, kecerdasan emosional, dan kematangan spiritual. Sesepuh Pagar Nusa, almarhum Kiai Maksum Jauhari (Gus Maksum) menjadi teladan bagi para kader dan pendekar Pagar Nusa. 

Akan tetapi, Pagar Nusa memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan negeri. Para pendekar khos (khusus) yang dimiliki Pagar Nusa memiliki peran-peran strategis, yang tidak perlu dikampanyekan di ranah publik. Peran merasa terasa, cepat dan signifikan jika menghadapi tantangan yang dirasa perlu mendapatkan respons. Ada standar dan kriteria masalah ataupun tantangan yang menjadi tanggung jawab Pagar Nusa. 

Tidak semua hal harus direspons, tidak semua masalah harus dijawab secara reaktif. Pagar Nusa selama ini memilih bekerja secara efektif, bergerak dalam diam, namun kontribusinya maksimal dalam menjaga kedaulatan bangsa, mengawal integrasi NKRI. 

Di sisi lain, Pagar Nusa juga mengabdi untuk terus mengawal kiai-kiai pesantren yang menjadi panutan. Jika kehormatan kiai dilecehkan dan dihina, Pagar Nusa tidak akan tinggal diam. Ini komitmen Pagar Nusa menjaga simbol pesantren. Jika simbol pengetahuan dilecehkan, sama halnya tidak ada penghormatan atas jamaah (komunitas) Nahdliyin dan Jam'iyyah (organisasi) Nahdlatul Ulama. 

Lalu, bagaimana cara Pagar Nusa menjaga NKRI di tengah arus deras islamisme dan radikalisme berbasis agama? Arus islamisme merupakan gelombang formalisasi agama yang berusaha membangun kekuatan politik untuk kepentingan kekuasaan. Islamisme menggunakan kendaraan agama untuk masuk ruang kekuasaan dan politik. Inilah yang terjadi belakangan ini di Tanah Air, berupa kebencian-kebencian yang ditanamkan di mimbar-mimbar masjid. 

Kebencian yang diserukan secara heroik dengan menggunakan jubah agama akan berbahaya bagi kesatuan umat. Seharusnya kita meminggirkan egoisme politik di lingkaran kesejukan agama. Islam mewartakan perdamaian dan kesatuan umat. Inilah yang harus menjadi renungan bersama. 

Terhadap kelompok yang mengancam kesatuan dan kedaulatan NKRI, Pagar Nusa tidak akan tinggal diam. Mereka yang berteriak melawan negara atau bahkan berusaha merobohkan negara, harus berpikir ulang. Pagar Nusa berkomitmen untuk terus mengabdi menjaga negara. Sesuai kaidah yang menjadi rujukan: hubbul wathan minal iman , cinta negara merupakan bagian dari iman. 

Mencintai negara, sekaligus menjaga agar keamanan dan sistem sosial-politik stabil. Jika sistem stabil maka ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan akan mendapat dukungan untuk kreasi terbaik. Akan tetapi, dukungan Pagar Nusa terhadap negara dibarengi dengan sikap kritis untuk mendorong pemimpin bangsa bekerja untuk kemaslahatan umat. 

"Tasharruful imam 'ala al-ra'iyyah manuthun bil maslahah ", kebijakan seorang pemimpin haruslah terkoneksi dengan kemaslahatan publik. Jadi, kaidah yang menjadi fondasi prinsip Pagar Nusa terhadap pengabdian kepada negara dan dukungan kepada pemimpin yang berorientasi pada maslahat berada pada garis stabil. 

Pentingnya Memahami Kebangsaan Diera Milenial

Mengingat, di era milenial yang tentunya tak bisa dihindari oleh siapapun yang ingin berkembang tentu sedikit banyaknya hal negatif yang bisa saja berdampak bagi keutuhan bangsa dan negara.

Perubahan lingkungan juga ikuti bagaimana generasi milenial ini jangan hanyut dalam kehidupan yang sifatnya baru. Tapi juga harus memahami akar pokok berdirinya negara, indikator bagaimana negara menjadi kuat. Hal itu yang harus dipahami generasi milenial.

Memang sudah sepatutnya pola pembinaan wawasan kebangsaan terus diberikan sebagai filter sekaligus menjadi rambu-rambu agar pengaruh pesatnya perkembangan era globalisasi sekarang ini bisa terus berimbang dengan rasa memiliki dan mencintai bangsa dan negara.

Walaupun kita orang yang modern tapi tetap harus menjaga nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Tetap harus menjadi warganegara yang baik. Memahami wawasan kebangsaan, sehingga menjadi modal untuk mempertahankan NKRI.

Perkembangan informasi yang serba cepat dan mutakhir telah memangkas segala sesatu dan menjadikannya instan, tak terkecuali memotong pula proses belajar agama. 

Agama kita mengajarkan agar belajar kepada mereka yang mempunyai mata rantai keilmuan yang jelas. Tradisi semacam ini yang hendak dipotong kompas dengan gaya instan ngaji di media sosial, padahal tradisi mata rantai itu pula yang menjadi salah satu ciri khas bangunan keilmuan yang telah ditelakkan para kiai, habaib, dan ulama di nusantara.

Tradisi tersebut semakin diperkuat dengan kemampuan membaca konsep hubungan antar sesama anak bangsa dalam konteks berbangsa dan bernegara. Keragaman Indonesia yang begitu kaya. Negara ini tidak hanya dianugerahi kekayaan budaya, suku, bahasa, tetapi juga flora, fauna, hingga energi dan logam dalam bumi. Sudah semestinya anugerah ini, tidak ada yang membuat kita inferior.

Betapa para leluhur bangsa ini diberikan sumber daya manusia yang luar biasa. misalnya logam paling kuat bisa diolah masyarakat Indonesia dengan suhu 15 ribu derajat yang berbentuk senjata hingga musik gamelan di saat negara lain belum memilikinya.     

Bangsa Indonesia juga pernah menghadang dan mengusir bangsa Mongolia dengan kekuatan militer superpower pada masa itu. Namun, di tangan pasukan Kertenegara, pasukan Mongolia harus bertekuk lutut.  

Santri pagar Nusa hadir menjawab setiap segmen era ini, meski dizaman milineal sebagai santri harus tetap menjaga agama, di era milinela santri harus selalu merawat budaya dan tradisi bangsanya, dan santri pagar nusa meski mewarisi Bela diri tua asli indonesia di era milineal mereka tetap melakoni prestasi dibidang Bela diri.

Di era millenial, santri fardhu 'ain melakukan jihad-jihad kekinian di zaman kacau (mess age) ini. Santri pagar Nusa harus menjadi generasi langgas yang moderat dan toleran di dunia maya. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan di dunia maya. 

Santri adalah garda terdepan yang mendakwahkan Islam yang teduh, bukan rusuh. Santri harus menjadi ‘promotor’ persatuan, perdamaian, dan ketertiban. Bukan malah menjadi ‘buzzer’ kemunkaran, permusuhan, fitnah dan ujaran kebencian. 
Santri itu harus serbaguna, serbabisa, multitalenta. Santri tidak boleh kudet (kurang update). 

Santri harus berpikir konstruktif, reflektif, aktif, efektif, kreatif, inovatif. Santri harus terus menjadi pelaku sejarah, bukan beban sejarah. Santri harus menjadi paku bumi sebagaimana amanat Alm. KH Abdul Aziz Mansur. Santri harus mampu mengambil peran sebagai lokomotif perubahan sosial demi kemaslahatan umat, bukan sekadar pendorong.

Komentar